Kelas Menengah Peluang Bisnis Perbankan Syariah

Jakarta (26/5) Meskipun market share perbankan syariah masih kecil dibandingkan dengan perbankan konvensional, tapi peluang perbankan syariah untuk  besar bisa terwujudkan, asalkan bank syariah bisa fokus dalam memanfaatkan peluang bisnis di segmentasi kelas menengah yang saat ini terus mengalami pertumbuhan secara demografi. Maka dari itu bank syariah atau keuangan syariah yang lainya harus inovatif dalam membuat produk dan pelayanan jasa keuangan untuk segmentasi kelas menengah tersebut.

Demikian peryataan yang disampaikan oleh pakar marketing Yuswohadi, dalam acara seminar Indonesia Banking Expo 2013  dengan tema: Sharia stream: Enabling Indonesia uniqueness to bring competitive advantage of Islamic banking, yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perbankan Nasional (Perbanas) berkerjasama dengan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) kemarin Jum’at (24/5) di JCC – Jakarta.

Menurut  Yuswohadi dari segi pertumbuhan, ekonomi Indonesia sangat hebat dan bisa bersaing dengan negara-negara yang kini juga mengalami pertumbuhan ekonomi di Asia seperti Cina dan India. Pertumbuhan tersebut lebih dipengaruhi oleh tingkat konsumsi masyarakat Indonesia yang terus meningkat. Terkait dengan potensi ekonomi tersebut Yuswohadi berharap, agar perbankan syariah melakukan market posisition dan strategic posisition. Salah satu market posision yang menarik adalah munculnya kelas menengah yang disebabkan oleh bonus demografi dimana pertumbuhan generasi muda sangat besar.  

“Maka dari itu bank syariah harus mentargetkan kelas menengah sebab kelas menengah itu unik dan kesadaran ekonomi mereka sangat besar. Inilah potensi yang bisa menjadi peluang,”terangnya.

Akibat dari bonus demografi yang ada selama ini, Yuswohadi menambahkan saat ini di Indonesia muncul OKB (Orang Kaya Baru) hal ini bisa dilihat dari perilaku mereka seperti banyaknya kepemilikan mobil, apartemen dan sibuknya transportasi bandara dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menurutnya yang menjadikan mass luxury bagi mereka. Market posisition  inilah yang seharusnya bank syariah untuk dijadikan strategic posision dalam menawarkan dan menjual produk perbankan saat ini.

Sementara pakar ekonomi Umar Juoro mengatakan, untuk memperbesar bank syariah perlu dukungan yang besar dari kebijakan fiskal dengan mengeluarkan sukuk yang penggunaanya untuk mendukung pembiayaan pinjaman (bersubsidi) bank syariah, seperti untuk kepemilikkan rumah dan UMKM. Selain itu juga perlu dibentuknya non-deposit taking bank syariah untuk pembiayaan infrastruktur, dimana modalnya berasal dari pemerintah dan swasta antara lain dengan penerbitan sukuk oleh pemerintah dengan penjaminannya asetnya oleh pemerintah. “Jika ini dilakukan saya yakin bank syariah di Indonesia memiliki keunikan selain konsep branchless banking yang selama ini sudah dilakukan,”terangnya. (Agus)

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>