GRES! Gerakan Ekonomi Syariah

GRES-LOGO-OKE-WEB1EKONOMI Indonesia ambruk pada tahun 1998 – seperti dikemukakan almarhum Nurcholish Madjid waktu itu – karena kita banyak memakan yang haram, seperti riba, harta hasil korupsi, dan sebagainya. Sejalan dengan pandangan Cak Nur di atas, sejarah mencatat sistem ekonomi yang bisa bertahan di seluruh belahan bumi terhadap terjangan krisis hanya sistem ekonomi yang dibangun di atas prinsip Islam atau sering disebut ekonomi syariah. Sistem ekonomi yang benar-benar adil, bermoral dan menghasilkan kesejahteraan berdasarkan objektivitas untuk semua orang hanya ditemukan di dalam Islam.

Maka tidak heran bila ekonomi syariah kini menjadi trend global dan keunggulannya diakui berbagai kalangan. Siapa pun yang menangkap kebaikan sistem ekonomi syariah, dialah yang akan memperoleh kemashalatannya.

Manfaat ekonomi syariah, tidak terbatas bagi muslim yang meyakini kebenaran risalah Islam saja, tetapi ekonomi syariah memberi maslahat dan keuntungan bagi siapa pun yang menggunakannya.

Baru-baru ini kalangan asosiasi pelaku perekonomian syariah di tanah air melakukan soft-launching GRES! atau singkatan Gerakan Ekonomi Syariah.

GRES! yang diinisiasi sebagai gerakan bersama untuk penyelamatan ekonomi Indonesia momentumnya sangat tepat saat ini.

Belakangan ini terjadi fenomena “runtuhnya kedai kita”, tegas Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin. Para pedagang muslim di Indonesia terpuruk tidak memiliki kemampuan bersaing dengan para pengusaha asing bermodal besar. Dulu kita memiliki cukup banyak kekuatan ekonomi di banyak kota, di Pulau Jawa sejak dari Sidoardjo, Ponorogo, Solo, Kota Gede, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Tasikmalaya, Garut sampai ibukota Jakarta.

Di pusat perdagangan besar waktu itu dikuasai pedagang umat Islam, tetapi sekarang terpuruk.

Dalam kondisi seperti digambarkan di atas, wajarlah GRES! disambut baik oleh berbagai kalangan karena diharap menjadi gerakan kultural masyarakat muslim Indonesia. Resonansi GRES! terdengar mulai dari gedung Bank Indonesia sampai ke kantor lembaga zakat.

Seberapa mampu GRES! memenuhi ekspektasi publik yang begitu tinggi, adalah persoalan lain yang perlu dipikirkan bersama. GRES! dipandang oleh para pegiatnya sebagai penyelamat ekonomi, lebih dari sebagai alternatif. Bukan hanya gerakan keagamaan, tapi gerakan ekonomi (economic movement).

Lembaga zakat dalam hal ini BAZNAS dan LAZ ikut ambil bagian di dalam gerakan ekonomi syariah di tanah air.

Penandatanganan piagam GRES! dilakukan oleh sejumlah asosiasi; PKES, MES, Asbisindo, Absindo, IAEI, DSN MUI, AASI, BAZNAS, ISMI dan BWI dalam acara halal bihalal Idul Fitri 1434 H yang diadakan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) 27 Agustus 2013 di Jakarta.

Dalam gerakan ini seluruh elemen yang terkait memiliki tanggungjawab bersama untuk mengedukasi masyarakat khususnya terkait dengan pemanfaatan dan pengembangan ekonomi syariah. Penyelamatan ekonomi Indonesia melalui gerakan ekonomi syariah bukan sekadar pepesan kosong, tetapi telah dibuktikan oleh para pemangku kepentingan (stakeholders) ekonomi syariah di bidangnya masing-masing.

Para inisiator GRES! melihat peran penting yang bisa dimainkan oleh lembaga zakat. Salah satu topik diskusi dalam kelompok kerja (working group) GRES! ialah pemberdayaan masyarakat melalui qardhul hasan, dimana mustahik terutama orang miskin dibantu untuk bisa memiliki usaha sehingga mendapat penghasilan yang layak dan bisa menabung serta usahanya sustainable dan bankable.

Sektor non-komersil ekonomi syariah berpeluang memperoleh “dana murah” yang dihimpun dan dikelola lembaga zakat asal sesuai kaidah. Namun demikian, tanggungjawab sosial perbankan syariah sendiri harus tetap dijalankan di tengah persaingan bisnis perbankan yang ketat dewasa ini.

Pemberdayaan zakat di sektor ekonomi sebetulnya telah berjalan di sejumlah lembaga zakat dalam bentuk program penyaluran zakat produktif.

Setiap program yang digulirkan tentu perlu memenuhi asas compliance (kepatuhan/ketaatan) pada prinsip-prinsip syariah dalam pemanfaatan zakat.

Selain pemanfaatan zakat, umat Islam perlu menggerakkan sektor perwakafan, termasuk wakaf uang dalam rangka pemberdayaan ekonomi. Pemerintah sejak 2004 telah menerbitkan regulasi yang cukup memadai untuk pemanfaatan wakaf di tanah air, yaitu mulai dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, serta Peraturan Menteri.

Di samping itu Pemerintah membentuk Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk memajukan dan mengembangkan perwakafan.

Salah satu agenda strategis pengembangan zakat dan wakaf adalah mengoptimalkan pengumpulan dan pemanfaatan zakat dan wakaf untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan. Untuk itu diperlukan penguatan fungsi Pemerintah selaku regulator seiring dengan peningkatan kapasitas amil dan nadzir, akuntabilitas pengelolaan zakat, pengamanan harta wakaf, pengembangan wakaf produktif dan sebagainya.

Di tengah uncertainty (ketidakpastian) perekonomian nasional dan global dewasa ini, umat Islam perlu memperkuat pranata sosial ekonomi yang sudah ada. Dalam kaitan ini, prinsip ukhuwah Islamiyah dan ta’awun (tolong menolong) tidak cukup hanya dipahami secara tekstual dan normatif, tetapi harus dipraktikkan dalam tataran operasional dan empiris.

Umat Islam yang kuat secara sosial dan ekonomi wajib hukumnya menolong saudara-saudaranya yang lemah.
Mereka yang kaya wajib membantu sesamanya yang miskin. Kalangan yang maju dan terpelajar wajib memperhatikan nasib sesamanya yang tertinggal dan terbelakang. Orang Islam yang berada di dalam lingkaran kekuasaan wajib membela dan melindungi saudara-saudaranya yang tidak berkuasa. Untuk itu aqidah Islamiyah harus menjadi faktor yang membentuk solidaritas dan integrasi umat Islam.

Kesatuan aqidah satu-satunya yang bisa menjembatani perbedaan paham, golongan dan fragmentasi pandangan politik umat.

GRES! insya allah akan membuahkan hasil nyata yang diharapkan bila dibangun di atas landasan persatuan umat dan kecintaan pada tanah air. (agus)

 

Penulis adalah Wakil Sekretaris BAZNAS, M. Fuad Nasar. Dan tulisan ini dikutip lengkap dari Koran Media Indonesia, Senin (7/10/2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>